Mengenal Kesenian “Pencak Dor” dari Kediri

Pencak Dor sudah diketahui semenjak tahun 1960-an. Seni bela diri gaya bebas ini betul-betul di gemari oleh masyakarat di Kediri. Tiap-tiap kali perlombaan ini digelar, ratusan sampai ribuan penonton hadir memadati gelanggang menyaksikan para pendekar bertarung.

Mengenal Kesenian Pencak Dor dari Kediri

Saling jotos, tendang dan banting, tak jarang peratung mencekik lawan tandingnya. Pertarungan Pencak Dor memicu adrenalin karena tiap-tiap petarung bebas gunakan beraneka ilmu bela diri yang dimilikinya. Suasana begitu menegangkan. Masing.masing pihak yang beradu tanding membawa kehormatan perguruan silatnya masing-masing.

Dikutip dari Andrewviolette, mulanya kegiatan Pencak Dor dipelopori Kiai Agus Maksum Jauhari yang yaitu cucu pendiri pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Kiai Haji Abdul Karim. Pencak dor dilahirkan di Pesantren Lirboyo yang terletak di lembah gunung Willis, Kota Kediri. Sejak tahun 1960- an pesantren ini juga diketahui sebagai daerah pengkaderan pendekar silat dari kalangan santri.

Tujuan kegiatan ini yaitu menjalin tali silaturahmi sesama pendekar dan menjadi wadah dakwah pemuda. Diceritakan, latar belakang dibentuknya wadah kegiatan ini yaitu dikala cucu pendiri pondok pesantren ini acap kali memandang terjadi perkelahian antar remaja di Kediri pada masa itu. Ia merasa prihatin atas situasi itu.

Pemuda-pemuda itu kemudian dipertemukan Gus Maksum untuk bertarung satu lawan satu dalam gelanggang Pencak Dor berukuran 8 x 4 meter. Bentungnya mirip dengan gelanggang tinju, tapi pembatas berupa bambu. Di gelanggang ini diharapkan pemuda-pemuda itu bisa selesaikan perselisihan secara adil tanpa mengurangi rasa persaudaraan.

Lebih-lebih lagi, usai pertarungan, umumnya para pendekar bisa lebih saling mengetahui satu sama lain. Mereka bisa saling bertukar pengalaman dalam ilmu bela diri. Tidak boleh ada dendam usia pertarungan digelar. Sehingga, di pesantren ini, kecuali melahirkan santri-santri yang merajai ilmu agama, juga tumbuh para santri yang merajai ilmu bela diri.

Berdarah, lebam, luka dan memar-memar. Sedangkan ini tipe pertarungan bebas, keselamatan petarung konsisten jadi prioritas yang utama.

Dua orang wasit yang mengawasi tiap-tiap pertarungan digelar. Mereka ditugaskan untuk melerai kedua petarung sekiranya situasi pertarungan makin mencekam. Para wasit sepatutnya mempunyai kemampuan bela diri tinggi dan merajai beraneka ilmu bela diri, mulai dari pencak silat, judo, karate, dan lainnya.

Kegiatan pencak dor berupa tarung bebas ini dkini digelar lebih pada upaya untuk mempertahankan kultur Pondok Lirboyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.